Nama
: Adithya Galih Purnomo
NPM : 10513212
Kelas : 3 PA 11
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Psikologi humanistik merupakan salah
satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar
pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan,
seperti : Abraham Maslow dan Carl Rogers. mereka mendirikan sebuah asosiasi
profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan
manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan,
cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.
Aliran humanistik muncul sebagai reaksi ketidakpuasan
terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik. Aliran humanisnik
beranggapan bahwa psikoanalisis dan behavioristik tidak menghormani namusia
sebagai manusia. Keduanya tidak bisa menjelaskan eksistensi manusia, seperti
cinta, kraetivitas, nilai makna, makna, dan pertumbuhan pribadi. Inialh yang
diisi oleh psikologi humanistik.
Konsep diatas menjadi dasar pentingnya mengetahui lebih
dalam tentang teori psikologi humanistik. Teori yang menganggap bahwa setiap
manusia memiliki kemampuan, bukan hanya sebagai robot yang dikendalikan oleh
kekutan tak sadar atau dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari
lingkungan. Oleh sebab itu, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui
bagaimana suatu masalah dapat teridentifikasi dilihat dari pendekatan psikologi
humanistik.
1.2
Rumusan masalah
a.
Bagaimana akar munculnya aliran humanistic?
b. Siapa pelopor
munculnya aliran humanistic?
c. Bagaimana konsep
dasar humanistik?
d.
Bagaimana mengidentifikasi masalah melalui pendekatan
psikologi humanistik?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Untuk
mengetahui Akar munculnya Aliran Humanistik
b. Untuk
mengetahui tokoh aliran Humanistik
c. Untuk
mengetahui konsep dasar Humanistik
d. untuk
dapat menganalisa masalah melalui pendekan psikologi humanistik
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Munculnya Aliran Humanistik
Psikologi humanistik merupakan salah
satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar
pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan.
Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow dan
Carl Rogers mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji
secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri),
aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat,
individualitas dan sejenisnya.
Kehadiran psikologi humanistik
muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta
dipandang sebagai “kekuatan ketiga” dalam aliran psikologi. Psikoanalisis
dianggap sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari
psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia
yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang
sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan
dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri.
Kekuatan psikologi yang kedua adalah
behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov dengan hasil pemikirannya tentang
refleks yang terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa semua
perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan.
2.2 Tokoh
Psikologi Humanstik
2.2.1
Abraham Maslow (Tokoh Psikologi Humanistik)
Lahir : 1908 di Brooklyn, Newyork
Wafat : 1970 (Usia 62 Tahun)
Masa Kecil : Dibesarkan dalam keluarga Yahudi
dan merupakan anak tertua dari tujuh bersaudara. Memiliki hubungan buruk dengan
orangtuanya, terutama hidupnya. Ia sukses dalam dunia pendidikan untuk
menyenangkan ayahnya.
Kontribusi pada Ilmu Psikologi : “Pelopor aliran Psikologi
Humanistik"
Pemikiran/Teori :
Humanistik adalah aliran dalam
psikologi yang muncul sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis.
Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya
sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah
teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan). Menurut Maslow, manusia
termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan
tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah
(bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri).
Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah kebutuhan Fisiologis,
kebutuhankeselamatan dan kebutuhan keamanan, kebutuhan memiliki cinta,
kebutuhan penghargaan, kebutuhan aktualisasi diri.
2.2.2 Carl Ransom Rogers
Lahir : 8 Januari 1902
di Oak Park, Illinios, Chicago
Wafat : 4 Februari 1987 -serangan jantung
Masa Kecil : Putra ke-4 dari 6 bersaudara.
Keluarga berkecukupan, menganut protestas fundamentalis yang keras dan kaku
dalam beragama, moral dan etika.
Kontribusi : Tokoh Psikologi Humanis, aliran
fenomenologis-eksistensial
Pemikiran/Teori :
Ide pokoknya dari teori – teori
Rogers yaitu individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti
diri, menentukan hidup, dan menangani masalah – masalah psikisnya asalkan
konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk
aktualisasi diri. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat
bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang
masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap
berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar
khususnya dalam masa kanak – kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan
dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi)
seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke
psikologis.
2.3
Konsep Dasar Teori Humanistik
Psikologi
Humanistik adalah suatu pendekatan mengenai pengalaman dan tingkah laku
manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia.
Menurut para ahli psikologi, aktualisasi diri adalah motivasi orang yang sehat,
jadi manusia yang sadar dan rasio tidak lagi dikontrol oleh peristiwa masa
lalu. Bagi Humanistik, aktualisasi diri akan terhambat jika melihat masa
lalu. Oleh sebab itu, humanistik lebih melihat pada masa sekarang.
Jika psikoanalisis berkeyakinan
bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dalam
diri, sedang behaviorisme meyakini bahwa semua perilaku dikendaikan oleh
faktor-faktor eksternal dari lingkungan, maka humanistik mencoba untuk melihat
kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka
memandang bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berfikir secara sadar
dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi
maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap
hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah
sikap dan perilaku mereka.
Teori Humanistik Menurut Roger
Rogers berpendapat, Humanistik
adalah bagaimana memberi gambaran terhadap dirinya , Konsep diri ini terbagi
menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Rogers
mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence
adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman actual, dari
situ tidak bisa mengembangkan kepribadian yang sehat. Sedangkan
Congruence adanya kecocokan antara self yang dirasakan dengan kenyataan. Setiap
manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan,
pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for
positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive
regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak
bersyarat). (Schultz 1991).
Rogers memiliki beberapa hipotesis
tentang bagaimana ketidaksesuaian itu dapat berkembang. Rogers menggambarkan
orang yang tidak sehat adalah orang yang mengalami tidak mendapatkan
unconditional positive regard (penghargaan positif tanpa syarat). Sedangkan,
Teori kebutuhan menurut Maslow
Menurut maslow, manusia termotivasi
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tersebut memiliki
tingkatan atau hierarki, mulai dari yang rendah sampai yang paling tinggi.
Maslow pun keluar dengan teorinya yang terkenal, Hierarchy of need ( hirarki
kebutuhan ).
A. Kebutuhan Fisiologis
Umumnya, kebutuhan fisiologis bersifat homeostatik ( usaha untuk menjaga
keseimbangan unsur fisik ) seperti makan, minum, gula, garam, protein, serta
kebutuhan istirahat dan seks. Kebutuhan fisiologis ini sangat kuat, dalam
keadaan absolut ( kelaparan dan kehausan ) semua kebutuahn lain ditinggalkan
dan semua orang mencurahkan untuk dapat memenuhi kebutuhan fisiologis.
B. Kebutuahn keamanan ( Safety )
Setelah kebutuhan fisologis terpuaskan, maka seseorang menginginkan rasa
aman dalam menjali hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan tersebut
di manifestasikan dalam bentuk keinginan untuk memiliki sebuah rumah
dilingkungan aman, keamanan dilingkungan kerja, rencana pensiun, asuransi, dan
lain sebagainya.
C. Kebutuhan memiliki cinta ( Love )
Ketika kebutuhan fisiologis dan
kebutuhan keamanan sebagian besar sudah terpenuhi, maka lapisan ketiga
kebutuhan mulaai muncul.Anda mulai merasa perlu memiliki teman, kekasih,
anak-anak, hubungan kasih sayang secara mendalam dan ikatan social.Anda mulai
merasa rentan terhadap kesepian dan kegelisahan social. Dalam kehiduan
sehari-hari, kita menunjukan kebutuhan ini dalam bentuk keinginan untuk
menikah, memiliki keluarga, menjadi bagian dari sebuah komunitas, bagian dari
keluarga besar, daan anggota suatu klub, termasuk juga bagian dari apa yang
kita cari dalam sebuah karir.
D. Kebutuhan Penghargaan /
Harga diri ( self Esteem )
Manakala kebutuhan cinta telah
relatif terpuaskan, kekuatan motivasi melemah, diganti oleh motivasi harga
diri. Kepuasan kebutuhan harga diri menimbulkan perasaan dan sikap percaya
diri, diri berharga, diri mampu, dan perasaan berguna dan penting didunia.
Sebaliknya, ketika kebutuhan harga diri tidak terpenuhi, maka orang akan
relatif canggung, lemah, pasif, penakut, dan rendah dalam bergaul. Menurut
maslow, penghargaan diri hendaknya diperoleh berdasarkan penghargaan diri
kepada diri sendiri.
E. Kebutuhan ktualisasi diri
Akhirnya, sesudah semua kebutuhan
dasar terpenuhi, muncullah kebutuahan aktualisasi diri, kebutuhan menjadi
sesuatu yang orang itu tidak mampu mewujudkannya/ memakainya secara maksimal.
Aktualisasai diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan dirinya
sendiri, untuk menyadari semua potensinya, untuk menjadi apa saja yang ia
inginkan. Manusia yang dapat mencapai tingkat ini adalah manusia yang utuh.
Mereka mengekspresikan kebutuahn dasar mereka secara alami, dan tidak mau
ditekan oleh budaya. Seseorang yang telah sampai pada tingkat aktua;isasi diri,
menunjukan bahwa ia ingin berkembang, ingin berubah, dan ingin mengalamo
transformasi menjadi lebih bermakna.
Menurut maslow, tidak ada kebutuahn yang terpenuhi 100%, rata-rata kebutuhan
fisiologi terpenuhi 85%, kebutuhan keamanan 80%, kebutuhan cinta 50%, kebutuhan
penghargaan 40%, dan kebutuahn aktulisasi diri terpuaskan sekitar 10%. Maslow
mengatakan bahwa kebutuhan bergerak lurus dari tingkat rendah, yaitu kebutuhan
fisiologi sampai tingkat paling tinggi, yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri.
Jika seseorang belum memenuhi kebutuhan akan keamanannya, maka dia tidak akan
memenuhi kebutuhan akan kasih sayang.
Meskipun maslow dan rogers tumbuh dengan teorinya masing-masing, tapi pada
dasarnya teori yang mereka gunakan memiliki kesamaan. Keduanya percaya bahwa
dalam setiap diri manusia memiliki potensi untuk berkembang.
Adapun
Tujuan pendekatan Humanistik adalah sebagai berikut :
1.
Mengoptimalkan kesadaran individu akan keberadaannya dan menerima keadaannya
menurut apa adanya. “Saya adalah saya”.
2.
Memperbaiki dan mengubah sikap, persepsi cara berfikir, keyakinan serta
pandangan-pandangan individu, yang unik, yang tidak atau kurang sesuai dengan
dirinya agar individu dapat mengembangkan diri dan meningkatkan self
actualization seoptimal mungkin.
3.
Menghilangkan hambatan-hambatan yang dirasakan dan dihayati oleh individu dalam
proses aktualisasi dirinya.
4.
Membantu individu dalam menemukan pilihan-pilihan bebas yang mungkin dapat
dijangkau menurut kondisi dirinya.
2.4
Identifikasi Masalah
Contoh:
Erin (30) yakin bahwa dia merupakan
orang yang sangat dermawan, sekalipun dia seringkali sangat pelit dengan
uangnya dan biasanya hanya memberikan tips yang sedikit atau bahkan tidak
memberikan tips sama sekali saat di restauran. Ketika teman makan malamnya
memberikan komentar pada perilaku pemberian tipsnya, dia tetap bersikukuh bahwa
tips yang dia berikan itu sudah layak dibandingkan pelayanan yang dia terima.
Dengan memberikan atribusi perilaku pemberian tipsnya pada pelayanan yang
buruk, aka dia dapat terhindar dari kecemasan serta tetap menjaga konsep
dirinya yang katanya dermawan.
Dampak dari Inkongruensi
Rogers berpikir bahwa manusia akan
merasa gelisah ketika konsep diri mereka terancam. Untuk melindungi diri mereka
dari kegelisahan tersebut, manusia akan mengubah perbuatanny sehingga mereka
masih akan tetap mampu berpegang pada konsep diri mereka. Manusia dengan
tingkat inkongruensi yang lebih tinggi akan merasa sangat gelisah karena
realitas selalu mengancam konsep diri mereka secara terus menerus.
BAB III
KESIMPULAN
Kehadiran psikologi humanistik
muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme yang dipandang
sebagai konsep yang tidak memanusiakan manusia. Dipelopori Abraham Maslow
dan Carl Rogers, mereka mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya
mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang :
self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat,
individualitas dan sejenisnya yang tidak dibahas oleh psikoanalisis dan
behaviorisme.
Rogers berpendapat, Humanistik
adalah bagaimana memberi gambaran terhadap dirinya , Konsep diri ini terbagi
menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Rogers
mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence.). Sedangkan Menurut maslow, manusia
termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan tersebut
memiliki tingkatan atau hierarki, mulai dari yang rendah sampai yang paling
tingg. Kenutuhan itu dikenal dengan Hierarchy of need ( hirarki kebutuhan
)
Dalam menganalisis masalah,
Psikologi Humanistik lebih memandang pada keadaan jiwa seseorang, bukan dilihat
dari segi lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Komunikasi.
Bandung. PT Remaja Rosdakarya
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan
ini tingkah laku atau behaviorisme adalah hal- hal yang dilakukan dalam
kehidupan sehari-hari. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa
memiliki tingkah laku yang berbeda-beda. Oleh sebab itu penting bagi kami untuk
mempelajari dan membahas tingakah laku atau behaviorisme lebih dalam, karena
behaviorisme dapat menjelaskan segala kelakuan manusia secara saksama dan
menyediakan program pendidikan yang efektif.
Dengan uraian yang kami buat, ternyata konsep
behaviorisme besar pengaruhnya terhadap masalah belajar, karena belajar
ditafsirkan sebagai latihan-latihan pembentukan hubungan antara stimulus dan
respon.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari
Behaviorisme?
2. Bagaimana sejarah
Behaviorisme?
3. Siapa saja tokoh tokoh
pelopor yang terkait dalam perkembangan ilmu psikologi?
4. Studi kasus teori
behaviorisme
C. Tujuan
1. Menjelaskan definii
behaviorisme
2. Membahas bagaimana
sejarah behaviorisme
3. Membahas tokoh-tokoh
pelopor behaviorisme
BAB II
PEMBAHASAN
A. BEHAVIORISME
Behaviorisme
adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan
oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat
diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi
yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau
mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang
diinginkan.
Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam
mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang
subjek dan menejemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar
behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai
secara konkret.
Teori behaviorisme hanya
menganalisa perilaku yang nampak , dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan.
Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh
perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku
organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah
manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui
bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti
teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang
individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan.
Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini,
timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah
mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan
peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan
pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan
kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang
diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis artinya bahwa tingkah
laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau
reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar
terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya.
Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan
reaksi terhadap lingkungan dan tingkah laku adalah hasil belajar.
B. TOKOH-TOKOH
BEHAVIORISME
Adapun beberapa tokoh-tokoh
behavioris yang berkembang dari tahun 1874 sampai saat sekarang ini :
1. Edward Lee Thorndike (1874-1949)
Menurut Thorndike belajar
merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara peristiwa yang
disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “connectionism”.
Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar
tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam
sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error.
Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai
respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon yang
salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
Thorndike menemukan beberapa
hukum, seperti :
1. Hukum
kesiapan (Law of Readiness)
Jika suatu organisme didukung oleh
kesiapan yang kuat untuk memperoleh stimulus maka pelaksanaan tingkah laku akan
menimbulkan kepuasan individu sehingga asosaiasi cenderung diperkuat.
2. Hukum
latihan
Semakin sering suatu tingkah laku
dilatih atau digunakan maka asosiasi tersebut semakin kuat.
3. Hukum
akibat
Hubungan stimulus dan respon
cenderung diperkuat bila akibat menyenangkan dan cenderung diperlemah jika
akibanya tidak memuaskan.
2. JOHN WATSON (1878 - 1958)
John Watson lahir pada tahun 1878 dan
meninggal tahun 1958. Minat awalnya adalah pada filsafat, sebelum beralih ke
psikologi karena pengaruh Angell. Akhirnya ia memutuskan menulis disertasi
dalam bidang psikologi eksperimen dan melakukan studi-studi dengan tikus percobaan.
Tahun 1903 ia menyelesaikan disertasinya. Tahun 1908 ia pindah ke John
Hopkins University dan menjadi direktur lab psi di sana. Pada tahun 1912
ia menulis karya utamanya yang dikenal sebagai ‘behaviorist’s manifesto’, yaitu
“Psychology as the Behaviorists Views it”. Dalam karyanya ini Watson
menetapkan dasar konsep utama dari aliran behaviorisme:
a. Psikologi
adalah cabang eksperimental dari natural science.
Posisinya setara dengan ilmu kimia dan fisika sehingga
introspeksi tidak punya tempat di dalamnya.
b. Sejauh ini psikologi
gagal dalam usahanya membuktikan jati diri sebagai natural science.
Salah satu
halangannya adalah keputusan untuk menjadikan bidang kesadaran sebagai obyek
psikologi. Oleh karenanya kesadaran/mind harus dihapus dari ruang lingkup
psikologi.
c. Obyek studi psikologi yang
sebenarnya adalah perilaku nyata.
Pandangan utama Watson
1. Psikologi mempelajari
stimulus dan respons (S-R Psychology). Yang dimaksud dengan stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk
juga perubahan jaringan dalam tubuh. Respon adalah apapun yang dilakukan
sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat
tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar. Respon ada yang overt dan
covert, learned dan unlearned
2. Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan)
sebagai penentu perilaku. Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga
unsur lingkungan sangat penting (lihat pandangannya yang sangat ekstrim
menggambarkan hal ini pada Lundin, 1991 p. 173). Dengan demikian pandangan
Watson bersifat deterministik, perilaku manusia ditentukan oleh faktor
eksternal, bukan berdasarkan free will.
3. Dalam kerangka mind-body, pandangan Watson
sederhana saja. Baginya, mind mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang
dipelajari ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan
berarti bahwa Watson menolak mind secara total. Ia hanya mengakui body sebagai
obyek studi ilmiah. Penolakan dari consciousness, soul atau mind ini adalah
ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh aliran ini,
meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. [Pada titik ini sejarah psikologi
mencatat pertama kalinya sejak jaman filsafat Yunani terjadi penolakan total
terhadap konsep soul dan mind. Tidak heran bila pandangan ini di awal mendapat
banyak reaksi keras, namun dengan berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi
populer.
4. Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif,
maka psikologi harus menggunakan metode empiris. Dalam hal ini metode
psikologi adalah observation, conditioning, testing, dan verbal reports.
5. Secara bertahap Watson menolak konsep insting,
mulai dari karakteristiknya sebagai refleks yang unlearned, hanya milik
anak-anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali
kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
6. Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang
vital dalam pandangan Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits
yang merupakan dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua
hukum utama, recency dan frequency. Watson mendukung conditioning respon Pavlov
dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah proses
conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan phobia (subyek
Albert). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson punya banyak kekurangan
dan pandangannya yang menolak Thorndike salah.
7. Pandangannya tentang memory membawanya pada
pertentangan dengan William James. Menurut Watson apa yang diingat dan
dilupakan ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata
lain, sejauhmana sesuatu dijadikan habits. Faktor yang menentukan adalah
kebutuhan.
8. Proses thinking and speech terkait erat.
Thinking adalah subvocal talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada
keterampilan berbicara dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak
terlihat’, masih dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir
atau gesture lainnya.
9. Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya
bahwa perilaku dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi
psikologi adaljah ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku. Pandangan ini
dipegang terus oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan
penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan kembali
semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi riset-riset
empiris pada eksperimen terkontrol.
3. Ivan Petrovich Pavlov(1849-1936)
Pavlov menemukan teori pelaziman klasik dengan memasangkan stimuli yang
netral atau stimuli yang terkondisi dengan stimuli tertentu yang tidak
terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu. Setelah pemasangan ini
terjadi berulang-ulang, stimuli yang netral melahirkan respons terkondisikan.
Pavlo mengadakan percobaan teori
plazima klasik terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus
bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan
tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa
disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang
berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut
dapat di ambil kesimpulan ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara
mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan
pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan
oleh stimulus dari luar. Contohnya belajar, belajar menurut teori ini adalah
suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang
menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah
adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah
terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
4. BURRHUS FREDERIC SKINNER (1904-1990)
Burrhus Frederic Skinner lahir 20
Maret 1904, di kota kecil Pennsylvania Susquehanna. Ayahnya adalah seorang
pengacara, dan ibunya yang kuat dan cerdas sebagai ibu rumah tangga. Ia
merefleksikan tahun-tahun awal kehidupannya sebagai suatu masa dalam lingkungan
yang stabil, di mana belajar sangat dihargai dan disiplin sangat kuat. Skinner
mendapat gelar BA-nya dalam sastra bahasa inggris pada tahun 1926 dari
Presbyterian-founded Humilton College. Setelah wisuda, ia menekuni dunia tulis menulis
sebagai profesinya selama dua tahun. Pada tahun 1928, ia melamar masuk program
pasca sarjana psikologi Universitas Harvard. Ia memperoleh MA pada tahun 1930
dan Ph.D pada tahun 1931. Pada tahun 1945, dia menjadi kepala departemen
psikologi Universitas Indiana. Kemudian 3 tahun kemudian, tahun 1948, dia
diundang untuk datang lagi ke Universitas Harvard. Di Universitas tersebut dia
menghabiskan sisa karirnya. Skinner adalah seseorang yang aktif dalam berbagai
kegiatan, seperti melakukan berbagai penelitian, membimbing ratusan calon
doktor, dan menulis berbagai buku. Meski tidak sukses sebagai penulis buku
fiksi dan puisi, ia menjadi salah satu penulis psikologi terbaik. Salah satu
karyanya yang terkenal adalah Walden II. Pada tanggal 18 Agustus 1980, Skinner
meninggal dunia karena penyakit Leukemia
Seperti halnya kelompok penganut
psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik untuk menerangkan
tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya yang berjudul The
Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar, ia mengemukakan
teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi diadakannya
konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The Experimental
an Analysis of Behavior”. Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal
of the Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di
Amerika (Sahakian,1970).
B.F. Skinner berkebangsaan
Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi
langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operantconditioning.
Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement
yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal,
pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant
( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut
dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Operant conditioning menjamin respon terhadap
stimuli.
CONTOH KASUS GANGGUAN
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Rina (12) kelihatannya pintar dan selalu ingin melakukan
yang terbaik. Rina menyukai hal yang berhubungan dengan seni dan pandai
melukis. Tetapi ia sangat berbeda ketika diminta untuk mengerjakan soal-soal di
depan kelas. Ia sering mengeluhkan beberapa kata yang menurut dia tidak ada
maknanya. Ketakutan terhadap kemampuan membacanya menimbulkan masalah di
sekolahnya, juga dengan temannya. Ia kadang merasa marah akan sesuatu dan sulit
menenangkan diri, ia tampak khawatir terhadap segala hal, selalu cemas
akan bencana yang akan menimpah dirinya ketika ia berinteraksi dengan orang
lain terutama teman-teman di sekolahnya. Jika ia gagal menciptakan sesuatu
seperti yang ia harapkan, ia akan marah dan memukul ke segala arah dan
membentur-benturkan kepalanya di tembok. Di rumah, keluarga Rina sering melihat
tingkah lakunya yang selalu menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran mengenai
suatu hal yg mengganggu tidurnya, ia selalu gelisah dan menyebabkannya jatuh
sakit. Kecemasannya itu membuat dia selalu menolak membaca buku pelajaran
dan selalu merasa takut untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain
karena tahu tidak terlalu banyak kata yang dikuasainya.
2. CIRI-CIRI GANGGUAN GAD
· Tidak
mampu membaca
· Tidak
mampu memaknai kata
· Tidak
mampu berinteraksi dengan orang lain secara baik
· Sering
marah
· Sulit
menenangkan diri
· Emosional
agresif
· Gangguan
tidur
· Sering
sakit
· Sering
khawatir
· Menolak
membaca buku
·
Mengeluhkan kata yang dibaca ynag menurutnya maknanya sangat sulit
· Sulit
menenangkan diri
· Memukul
kesegala arah dan membenturkan kepalanya ke tembok
3. PENJELASAN GANGGUAN
Individu yang menderita gangguan anxietas menyeluruh (GAD) ditandai oleh
perasaan cemas, sering kali dengan hal-hal kecil. Ciri utama GAD adalah rasa
cemas. Orang dengan GAD adalah pencemasan yang kronis. Mungkin mereka
mencemaskan secara berlebihan keadaan hidup mereka, seperti keuangan,
kesejahteraan anak-anak, dan hubungan sosial mereka. Menurut suatu study, 9
dari 10 orang dengan GAD melaporkan kecemasan yang berlebihan bahkan mengenai hal-hal
kecil(Sanderson & Barlow, 1990). Anak-anak dengan gangguan ini mencemaskan
prestasi akademik, atletik, dan aspek sosial lain dari kehidupan sekolah. Ciri
lain yang terkait adalah: merasa tegang, waswas, atau khawatir, mudah lelah,
mempunyai kesulitan berkonsentrasi atau menemukan bahwa pikirannya menjadi
kosong, iribilitas, ketegangan otot, dan adanya gangguan tidur, seperti sulit
untuk tidur, dan tidur yang gelisah dan tidak memuaskan
GAD cenderung merupakan suatu gangguan yang stabil, muncul
pada pertengahan remaja sampai pertengahan umur 20-an tahun dan kemudian
berlangsung sepanjang hidup. Gangguan ini muncul dua kali lebih banyak pada
perempuan dibandingkan pada laki-laki(APA, 2000;USDHHS, 1999a)
Meskipun GAD secara tipikal kurang intens dalam respons
fisiologisnya dibandingkan dengan gangguan panik, distres emosional yang
diasosiasikan dengan GAD cukup parah untuk mengganggu kehidupan orang
sehari-hari. GAD sering ada bersama dengan gangguan lain seperti depresi
atau gangguan kecemasan lainnya seperti agorafobia dan obsesif-kompulsif.
Dari kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa orang tersebut (Rina)
menderita gangguan anxiety menyeluruh. Karena kita dapat menemukan beberapa
ciri penyakit dari gangguan anxiety menyeluruh.
4. CARA MENANGANI
Terapi yang digunakan untuk
Gangguan Anxietas Menyeluruh
Pendekatan Psikoanalisis,
karena memandang gangguan anxietas menyeluruh berakar dari konflik-konflik yang
ditekan, sebagian besar psikoanalisis bekerja untuk membantu pasien untuk
menghadapi sumber-sumber konflik yang sebenarnya. Penanganannya hampir sama
dengan penanganan fobia.
Satu studi tanpa kontrol menggunakan intervensi
psikodinamika yang memfokuskan pada konflik interpersonal dalam kehidupan masa
lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara yang lebih adaptif untuk
berhubungan dengan orang lain pada saat ini, sama dengan para terapi behavioral
mendorong penyelesaian masalah sosial.
Pendekatan
Behavioral, para ahli klinis behavioral menangani kecemasan menyeluruh
dengan berbagai cara. Jika terapis menganggap kecemasan sebagai
serangkaian respons terhadap berbagai situasi yang diidentifikasi, apa yang
tampak sebagai kecemasan yang bebas mengalir dapat diformulasi ulang pada satu
fobia atau lebih atau kecemasan berisyarat. Sebagai contoh, seorang terapis
behavioral dapat menyimpulkan bahwa klien yang mengalami kecemasan menyeluruh
tampaknya lebih spesifik memiliki ketakutan untuk mengkritik dan dikritik orang
lain. Terapis perilaku harus memformulsi ulang apa yang awalnya tampak sebagai
GAD menjadi semacam fobia.
Walaupun demikian, dapat terjadi kesulitan untuk menemukan
penyebab spesifik kecemasan yang diderita pasien semacam itu. Kesulitan ini
memicu para ahli klinis behavioral untuk memberikan penanganan yang lebih umum,
seperti training relaksasi intensif, dengan harapan bahwa belajar untuk rileks
ketika mulai merasa tegang seiring mereka menjali hidup akan mencegah kecemasan
berkembang tanpa kendali. Para pasien diajarkan untuk melemaskan ketegangan
tinkat rendah, merespon kecemasan yang baru muncul dengan relaksasi dari pada
dengan kepanikan.
Terapis
kognitif-behavioral juga memakai kombinasi teknik untuk menangani gangguan
kecemasan menyeluruh (GAD). Termasuk dalam teknik-teknik ini adalah pelatihan
keterampilan self-relaxation; belajar untuk mengganti pikiran-pikiran
intrusif dan mencemaskan dengan pikiran - pikiran yang adaptif; belajar
keterampilan - keterampilan untuk dekatastrofisasi (menghindari kecenderungan
untuk berpikir yang buruk). Dalam studi yang terkontrol, pendekatan
kognitif-behavioral dalam menangani GAD telah menunjukkan manfaat yang lebih
besar dibandingkan kondisi terkontrol lain atau terapi alternatif lain (Barlow,
esler & Vitali, 1998; DeRubies & Crits-Cristoph, 1998; Ladouceur dkk,
2000)
DAFTAR
PUSTAKA